Follow Us

ENTERTAINMENT

Music, News, Traveling, Movie

ENTEX

Review Deep Water (2026): Ketika Bencana Pesawat Berubah Menjadi Mimpi Buruk di Laut Lepas

Menghadirkan bencana pesawat terbang di layar lebar bukan lagi perkara mudah pada 2026. Penonton telah menyaksikan Denzel Washington membalikkan pesawat dalam Flight, Tom Hanks melakukan pendaratan legendaris di Sungai Hudson dalam Sully, hingga Robert Hays menyelamatkan penerbangan dalam komedi klasik Airplane!. Di tengah standar yang semakin tinggi itu, sutradara Renny Harlin mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda lewat Deep Water, sebuah film yang memadukan bencana udara dengan teror hiu ganas di tengah Samudra Pasifik. Hasilnya adalah perpaduan antara Deep Blue Sea, Snakes on a Plane, dan Sully—sebuah film yang berambisi besar, penuh aksi, namun tidak selalu berhasil menjaga konsistensi kualitasnya.

Sinopsis
Ben (Aaron Eckhart), seorang pria yang berusaha melarikan diri dari masalah pribadinya, memilih menjalani kehidupan nomaden dengan terus berpindah menggunakan penerbangan komersial. Dalam salah satu perjalanannya melintasi Pasifik, ia bertemu kembali dengan pilot veteran Rich (Ben Kingsley). Namun, penerbangan tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang penumpang bermasalah, Dan (Angus Sampson), memicu kebakaran di ruang kargo yang akhirnya menyebabkan pesawat jatuh ke tengah lautan. Bencana itu ternyata hanyalah awal. Terombang-ambing di tengah samudra, para penyintas segera menyadari bahwa mereka kini menjadi sasaran sekawanan hiu lapar. Bersama seorang gadis kecil bernama Cora (Molly Belle Wright), Ben memimpin upaya bertahan hidup dalam pertarungan selama 24 jam yang dipenuhi kematian brutal dan serangan hiu tanpa henti.

Kecelakaan Pesawat yang Mengesankan
Momen terbaik Deep Water justru hadir sebelum hiu mengambil alih cerita. Adegan jatuhnya pesawat berhasil dibangun dengan intensitas tinggi dan terasa mengerikan. Harlin mampu menggambarkan kepanikan serta kekacauan bencana udara secara efektif, bahkan dalam beberapa aspek terasa lebih brutal dibanding Sully. Sayangnya, kekuatan terbesar film ini baru benar-benar muncul sekitar empat puluh menit setelah cerita dimulai. Sebelum mencapai titik tersebut, penonton harus melewati pengenalan karakter yang terlalu panjang sehingga menghambat ritme film.

Ketika Hiu Mulai Menguasai Layar
Begitu para penyintas berada di laut, Deep Water berubah menjadi film survival yang jauh lebih menghibur. Harlin tidak ragu mengorbankan karakter-karakternya secara tiba-tiba, sehingga penonton tidak pernah benar-benar merasa siapa pun aman. Pendekatan ini berhasil menciptakan ketegangan yang konsisten. Beberapa karakter bahkan diperkenalkan seolah akan menjadi tokoh penting, hanya untuk menjadi korban hiu beberapa menit kemudian. Keberanian tersebut membuat setiap adegan terasa memiliki konsekuensi nyata. Namun, di sisi lain, beberapa karakter justru menghilang begitu saja tanpa penyelesaian yang jelas, seolah terlupakan oleh naskah.

Drama yang Terlalu Serius
Masalah terbesar film ini justru berasal dari sisi emosionalnya. Karakter Ben digambarkan sebagai sosok ayah yang meninggalkan keluarganya ketika anaknya sedang berjuang melawan penyakit serius. Konflik pribadi tersebut memang dimaksudkan menjadi motivasi perubahan karakter, tetapi penyajiannya justru terasa memaksa. Alih-alih membuat penonton bersimpati, latar belakang Ben terkadang membuatnya tampak tidak bertanggung jawab. Ketika film kemudian mencoba menyentuh sisi emosional di tengah serangan hiu yang brutal, perubahan nadanya terasa kurang mulus dan sulit diterima. Akibatnya, Deep Water sering kali membingungkan penonton: apakah film ini ingin menjadi thriller survival yang menyenangkan, atau drama keluarga yang serius.

CGI Menjadi Titik Lemah
Dari sisi visual, kualitas efek komputer menjadi kelemahan paling mencolok. Desain hiunya memang masih cukup meyakinkan, tetapi belum mampu menandingi kualitas film-film modern seperti The Shallows. Yang lebih mengganggu justru efek lingkungan, mulai dari laut hingga panorama kota, yang beberapa kali terlihat kurang realistis. Koreksi warna yang berlebihan semakin memperkuat kesan artifisial dan membuat sejumlah adegan terasa berada di wilayah uncanny valley, sehingga mengurangi imersi penonton.

Kesimpulan
Deep Water adalah film yang memiliki premis menarik dan beberapa adegan aksi yang benar-benar menghibur, terutama saat menampilkan kecelakaan pesawat dan aksi bertahan hidup di tengah lautan. Renny Harlin juga patut diapresiasi karena berani memberikan konsekuensi nyata terhadap para karakternya, membuat ketegangan tetap terjaga sepanjang film. Sayangnya, naskah yang terlalu lama membangun cerita, drama keluarga yang kurang efektif, serta kualitas CGI yang tidak konsisten membuat potensi film ini tidak pernah benar-benar mencapai puncaknya. Perubahan nada antara drama emosional dan hiburan monster hiu pun terasa terlalu kontras, sehingga pengalaman menontonnya menjadi naik turun.

Pada akhirnya, Deep Water tetap menawarkan hiburan yang cukup seru bagi penggemar film survival dan thriller hiu. Namun, di balik aksi spektakulernya, film ini juga menjadi contoh bagaimana ambisi besar bisa tenggelam oleh eksekusi yang kurang seimbang.

Play Video

Get Motivated By Working On Your Passion

I Struggle With Confidently Pricing My Services

Related Post

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE
Scroll to Top