
Omnibus Lima Kisah Menyeramkan Tentang Hantu yang Mematikan “Ada dua aturan dalam hal hantu. Tidak ada jalan kembali setelah Anda membeli hantu. Dan apa pun yang terjadi, jangan pernah melakukan kontak mata.
Diproduksi oleh Jerry Good Company dan didistribusikan oleh BY4M Studio, film The Cursed: Insatiable Desires mendapatkan rating 8,21/10 di skor Naver. Banyak kritikus memuji performa para aktor, tetapi menyayangkan perkembangan ceritanya.

Film The Cursed: Insatiable Desires telah dirilis di Korea Selatan pada 17 September 2025. Pada hari pembukaan, film ini menempati posisi ke-4 di box office domestik.
The Cursed: Insatiable Desires menyajikan gabungan lima kisah mencekam yang semuanya terikat pada satu konsep mistis, yakni pasar hantu Gwisi. Tempat ini adalah wadah di mana manusia dapat membeli apa pun yang mereka inginkan—mulai dari uang, kecantikan, nilai, hingga popularitas—dengan imbalan harga yang mengerikan dan konsekuensi yang menghancurkan jiwa.
Film The Cursed: Insatiable Desires menyoroti bagaimana keinginan manusia yang semula wajar dapat berubah menjadi obsesi yang tak terkendali. Cerita bermula di sebuah desa terpencil setelah seorang kakek nekat menebang pohon keramat penjaga desa, yang memicu serangkaian kejadian aneh dan gaib.

Dong-sik (Yoo Jae-myung) merupakan detektif yang menginvestigasi penculikan misterius, Chae-won (Moon Chae-won) adalah seorang pekerja kantoran, terobsesi dengan kecantikan, dan Mi-yeon (Solar/Kim Yong-sun) adalah wanita yang datang ke desa terpencil untuk memenuhi impiannya menjadi penulis terkenal.
Sedangkan Hee-jin (So Young-hee) merupakan seorang ibu yang tega melakukan segala cara supaya anaknya masuk ke sekolah kedokteran, bahkan dengan membuat perjanjian dengan setan.
Tak ada yang saling mengenal, namun semua orang memiliki kemauan dan hasrat menggebu-gebu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan mereka semua melakukan segala cara, termasuk membeli setan di sebuah pasar misterius yang buka setiap malam.
Film dengan naskah sekaligus sutradara oleh Hong Won-ki menggabungkan aktor dan talenta muda Korea dalam horor berdurasi 96 menit ini. Selain Yoo Jae-myung yang melejit setelah membintangi Reply 1998 (2015) dan Moon Chae-won, ada pula Solar idol dari grup Mamamoo dan Bae Su-min dari Stayc dan beberapa idol K-Pop lainnya.

Menarik untuk melihat berbagai idol terjun ke ranah baru dengan penampilan yang bisa dibilang tak terlalu buruk, bahkan cenderung menyenangkan untuk ditonton. Bahkan masing-masing karakter punya cerita dan hasrat mereka sendiri.
Tapi sama seperti banyaknya aktor dan nama-nama besar di film ini, Won-ki kesulitan untuk menggabungkan masing-masing cerita dari setiap karakter. Bagaikan serpihan-sepihan puzzle yang berantakan, benang merah film ini adalah pasar misterius dan kegiatan jual beli setan yang dilakukan karakternya.
Selain budaya membeli setan, film ini juga fokus pada fox window, atau sebuah cara untuk melihat apakah orang di depan kamu setan atau manusia. Caranya bisa dilihat pada trailer, yaitu dengan membuat bentuk persegi pada jari sehingga menjadi kotak dan melihat melalui kotak tersebut.
ari sisi horornya, film ini cukup sukses menghadirkan adegan-adegan yang membuat bergidik. Termasuk jump scare yang datang tiba-tiba dan sebagian punya timing yang unik. Hal ini membuat film ini cukup menarik dan menyenangkan untuk ditonton, jika bukan karena cerita yang tak runut dan cukup membingungkan.

Tanpa jeda atau penanda di masing-masing ceritanya, horor dengan gaya omnibus ini memang cukup sulit diikuti. Tanpa sadar satu cerita telah selesai, lalu penonton harus mengikuti karakter lainnya tanpa mengetahui apa yang terjadi dengan karakter sebelumnya. Cukup membuat kepikiran dan terasa “gantung”.
Dengan cerita yang tumpang tindih tanpa diketahui mana awal dan akhir, ada banyak kisah yang terkesan “tak terselesaikan”. Jadi penonton harus memutar otak lebih keras jika ingin mengetahui apa yang terjadi pada satu karakter. Karena Won-ki sepertinya ingin memberikan akhir cerita mereka pada imajinasi penonton.
Tema tentang keserakahan manusia memang jadi penghubungnya. Hanya saja bagaimana Won-ki merepresentasikan dalam kesatuan plot agak membingungkan. Dan untuk keseluruhan durasi, cerita-cerita tersebut seperti mengambang, tak terselesaikan. Setidaknya untuk penonton umum atau mereka yang tidak tahu menahu tentang film ini.
Bagian akhir dari semua karakter ditutup dengan kisah mereka yang dipenuhi tanda tanya. Tanpa fokus pada awal dan akhirnya, sepertinya Won-ki lebih ingin penonton fokus pada proses dan apa saja “insatiable desires” dari setiap karakter yang ada.
Untuk sebuah film horor omnibus, The Cursed: Insatiable Desires menawarkan berbagai cerita seram dan adegan-adegan yang tentunya jadi pemuas keinginan penonton yang datang untuk ditakut-takuti. Tapi dari segi cerita, film ini jelas bukan untuk penonton umum yang hanya ingin cerita horor dengan premis sederhana yang mudah diikuti.



