
Ada kalanya sebuah film kriminal tidak menjadikan aksi sebagai daya tarik utama. Bukan baku tembak atau pengejaran yang menjadi pusat perhatian, melainkan pertanyaan sederhana yang jauh lebih sulit dijawab: seberapa jauh seseorang bersedia melanggar prinsipnya demi mendapatkan keadilan? Pertanyaan tersebut menjadi fondasi utama By Any Means, film thriller kriminal-historis arahan Elegance Bratton yang membawa penonton kembali ke Mississippi pada 1966, sebuah periode ketika segregasi rasial dan kekerasan terhadap masyarakat kulit hitam masih menjadi bagian kelam dalam sejarah Amerika Serikat.
Dibintangi Yahya Abdul-Mateen II, Mark Wahlberg, Giancarlo Esposito, dan Nicole Beharie, film ini tidak sekadar menghadirkan kisah investigasi pembunuhan. By Any Means mencoba masuk lebih dalam ke wilayah abu-abu antara hukum, keadilan, loyalitas, ambisi, dan moralitas. Hasilnya adalah sebuah thriller yang bergerak dengan tempo relatif tenang, tetapi menyimpan tekanan psikologis yang semakin kuat seiring cerita berjalan.
Ketika Agen FBI Harus Bekerja Sama dengan Pembunuh Bayaran
Cerita By Any Means berpusat pada Wayne Strider yang diperankan Yahya Abdul-Mateen II, seorang agen FBI kulit hitam yang bekerja dalam institusi yang belum sepenuhnya mampu melihatnya sebagai seorang profesional yang setara.
Strider ditugaskan menyelidiki pembunuhan seorang tokoh hak-hak sipil kulit hitam, Vernon Dahmer, setelah rumahnya dibakar dalam sebuah serangan yang berkaitan dengan ketegangan rasial dan politik. Kasus tersebut pada awalnya terlihat seperti investigasi kriminal biasa. Namun, Strider segera menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan lingkungan yang jauh lebih kompleks. Mississippi bukan sekadar lokasi kejadian, tetapi sebuah wilayah yang penuh dengan ketegangan sosial, kebencian, kekuasaan, dan kepentingan politik. Ironisnya, untuk menyelesaikan kasus tersebut, Strider harus bekerja sama dengan seseorang yang seharusnya berada di sisi berlawanan dari hukum. Ia dipasangkan dengan Greg Scarpa, seorang pembunuh bayaran mafia yang diperankan Mark Wahlberg. Di sinilah By Any Means menemukan daya tarik terbesarnya.
Seorang agen FBI yang seharusnya menjunjung hukum harus bekerja bersama seorang kriminal yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan. Mereka memiliki tujuan yang sama, tetapi prinsip yang berbeda. Strider percaya pada hukum. Scarpa percaya pada hasil. Dan film kemudian membangun ketegangan dari benturan dua cara pandang tersebut.
Bukan Sekadar Film tentang Rasisme
Tema rasisme memang menjadi bagian penting dari By Any Means, tetapi film ini tidak berhenti pada penggambaran konflik antara masyarakat kulit putih dan kulit hitam. Yang lebih menarik adalah bagaimana film memperlihatkan dampak sistem yang korup terhadap individu. Strider merupakan seorang agen FBI, tetapi status tersebut tidak otomatis membuatnya mendapatkan perlakuan yang sama. Ia harus membuktikan dirinya di dalam institusi yang memiliki keterbatasan dan prasangka sendiri. Situasi tersebut membuat karakter Strider berada dalam posisi yang menarik. Di satu sisi, ia ingin menjalankan tugas berdasarkan hukum. Di sisi lain, ia melihat bahwa hukum dan sistem tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.
Ketika orang-orang yang seharusnya menegakkan keadilan justru terhambat oleh kepentingan politik dan prasangka, muncul pertanyaan besar:
Apakah tetap mengikuti aturan merupakan pilihan yang benar ketika aturan tersebut gagal memberikan keadilan? Inilah pertanyaan yang terus menghantui perjalanan Strider. Wayne Strider dan Dilema Moral yang Semakin Berat
Yahya Abdul-Mateen II menjadi pusat emosional film.
Strider bukan karakter yang digambarkan sebagai pahlawan sempurna. Ia memiliki idealisme, tetapi idealismenya terus diuji oleh kenyataan. Setiap informasi baru yang ditemukan membuat situasinya semakin rumit. Ia harus memilih antara mempertahankan prinsip atau menggunakan metode yang lebih ekstrem. Dan kehadiran Greg Scarpa membuat dilema tersebut semakin kuat. Scarpa tidak peduli dengan prosedur. Ia tidak membutuhkan surat izin untuk melakukan sesuatu. Ketika ada seseorang yang menghalangi jalan, kekerasan menjadi solusi paling sederhana.

Bagi Strider, pendekatan semacam itu jelas berbahaya.
Namun semakin jauh penyelidikan berjalan, semakin terlihat bahwa metode Scarpa terkadang justru menghasilkan sesuatu yang tidak mampu diberikan oleh sistem hukum. Hubungan kedua karakter inilah yang membuat By Any Means memiliki lapisan psikologis yang cukup kuat. Mereka bukan teman. Mereka juga bukan partner ideal. Mereka adalah dua orang yang dipaksa bekerja bersama karena keadaan.
Mark Wahlberg Hadir sebagai Karakter yang Sulit Diprediksi
Jika Yahya Abdul-Mateen II menjadi representasi idealisme dan dilema moral, maka Mark Wahlberg membawa energi yang jauh lebih liar melalui karakter Greg Scarpa. Scarpa adalah sosok yang berbahaya, tetapi film tidak menjadikannya sekadar mesin pembunuh. Ada sisi humor gelap yang membuat karakternya terasa berbeda. Di tengah suasana yang serius, Scarpa sesekali melontarkan komentar sinis dan candaan yang justru semakin memperlihatkan betapa absurdnya situasi yang sedang mereka hadapi. Humor tersebut juga berfungsi sebagai penyeimbang. Tanpa elemen tersebut, By Any Means mungkin akan terasa terlalu berat sejak awal hingga akhir. Wahlberg berhasil menghadirkan karakter yang karismatik sekaligus mengancam. Kita tidak pernah sepenuhnya yakin apa yang akan dilakukan Scarpa berikutnya. Dan justru ketidakpastian tersebut menjadi salah satu kekuatan karakternya.
Mississippi yang Kelam Menjadi Bagian dari Cerita
Salah satu aspek paling menarik dari By Any Means adalah bagaimana film memanfaatkan Mississippi sebagai lebih dari sekadar latar. Lingkungan sosial pada era tersebut terasa seperti karakter tersendiri. Jalanan, bangunan, rumah, kantor, hingga ruang-ruang publik digunakan untuk memperlihatkan sebuah masyarakat yang terpecah. Ketegangan tidak selalu muncul melalui kekerasan. Kadang hanya melalui tatapan. Percakapan singkat. Sikap seseorang ketika melihat Strider. Atau bagaimana sekelompok orang berdiri di sebuah tempat dan membuat karakter lain merasa tidak aman. Pendekatan tersebut membuat atmosfer film terasa lebih menekan. Penonton seperti ditempatkan dalam lingkungan di mana bahaya bisa muncul kapan saja.
KKK dan Simbol Kebencian
Representasi kelompok yang identik dengan Ku Klux Klan (KKK) juga memperkuat sisi historis film. Kehadiran mereka tidak sekadar digunakan sebagai antagonis, tetapi sebagai simbol dari sistem kebencian dan intoleransi yang menjadi bagian penting dari konflik. Kostum putih dan penutup kepala khas yang digunakan kelompok tersebut terlihat semakin mengintimidasi ketika dipadukan dengan pencahayaan kontras. Secara visual, mereka sering terasa seperti ancaman yang hadir dari balik bayangan. Film tidak mencoba memberikan pembenaran terhadap tindakan mereka. Sebaliknya, keberadaan kelompok tersebut digunakan untuk memperlihatkan bagaimana kebencian berbasis identitas dapat berkembang menjadi kekerasan sistematis.
Sinematografi Gelap yang Mendukung Cerita
Dari sisi visual, By Any Means memiliki pendekatan yang cukup konsisten. Film menggunakan pencahayaan kontras dan dominasi warna yang cenderung gelap untuk menciptakan atmosfer suram. Pendekatan ini terasa cocok dengan tema yang diangkat. Tidak ada kesan bahwa karakter sedang berada dalam dunia yang hitam-putih. Justru sebaliknya, dunia film terasa abu-abu. Hal tersebut juga tercermin dalam penggunaan close-up. Wajah Strider sering ditempatkan dekat dengan kamera ketika dirinya berada dalam tekanan. Ekspresi kecil menjadi penting karena karakter ini tidak selalu mengungkapkan apa yang ia pikirkan melalui dialog. Close-up tersebut membuat penonton seolah dipaksa masuk ke dalam kepala Strider. Kita melihat keraguan. Kemarahan. Ketakutan. Dan konflik batin yang perlahan semakin besar.

Sementara adegan yang melibatkan massa menggunakan komposisi lebih luas untuk menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Strider bukan hanya masalah pribadi. Ia berhadapan dengan sebuah sistem sosial yang jauh lebih besar. Tata Suara dan Musik yang Memperkuat Ketegangan
By Any Means juga cukup efektif memanfaatkan suara.
Musik latarnya tidak selalu hadir secara berlebihan. Justru ketika musik ditahan, suara lingkungan menjadi lebih terasa. Kemudian ketika ketegangan meningkat, dentuman musik mulai masuk secara perlahan. Nuansa jazz dan orkestrasi gelap memberikan identitas tersendiri bagi film. Musiknya tidak hanya berfungsi sebagai pengiring adegan, tetapi juga menciptakan perasaan bahwa sesuatu yang buruk sedang mendekat. Efek suara juga dibuat cukup realistis. Suara langkah kaki, pintu, kendaraan, hingga suara tembakan terasa memiliki bobot yang membantu meningkatkan ketegangan. Hasilnya, film mampu membangun suspense tanpa harus terus-menerus mengandalkan aksi.
Pace Lambat, tetapi Bukan Tanpa Alasan Salah satu kelemahan By Any Means adalah ritmenya. Film membutuhkan waktu untuk benar-benar berkembang. Bagian awal terasa cukup lambat karena film lebih memilih memperkenalkan karakter, situasi sosial, serta konteks kasus daripada langsung melempar penonton ke dalam konflik besar. Bagi penonton yang terbiasa dengan thriller kriminal bertempo cepat, bagian ini mungkin terasa sedikit melelahkan. Namun, kesabaran tersebut memiliki tujuan. Semakin cerita berjalan, semakin banyak tekanan yang dikumpulkan. Dan ketika memasuki pertengahan hingga menjelang klimaks, tempo mulai meningkat. Konflik yang sebelumnya terasa terpisah perlahan bertemu.
Informasi baru mengubah cara kita melihat karakter. Keputusan yang sebelumnya terlihat sederhana mulai memiliki konsekuensi. Dengan demikian, struktur film sebenarnya cukup efektif dalam membangun suspense secara bertahap. Drama yang Tidak Takut Membicarakan Moralitas Hal terbaik dari By Any Means bukanlah misteri pembunuhannya. Bukan pula aksi atau konspirasinya. Kekuatan terbesar film justru berada pada pertanyaan moral yang ditinggalkannya kepada penonton. Apakah tujuan yang benar membenarkan cara yang salah? Apakah seseorang masih bisa disebut sebagai penegak hukum ketika ia harus bekerja sama dengan kriminal? Dan jika sistem hukum gagal memberikan keadilan, apakah seseorang berhak mengambil keadilan dengan tangannya sendiri?

Film tidak memberikan jawaban sederhana.
Strider dan Scarpa mewakili dua ekstrem yang terus bertabrakan. Strider berusaha mempertahankan hukum. Scarpa percaya bahwa hukum sering kali terlalu lambat. Di antara keduanya, penonton dipaksa menentukan sendiri siapa yang sebenarnya lebih benar. Akting Pemeran Pendukung Ikut Memperkuat Cerita Selain dua pemeran utama, Giancarlo Esposito memberikan kontribusi emosional melalui perannya sebagai Vernon Dahmer. Kehadiran Dahmer memang tidak mendominasi keseluruhan film, tetapi karakternya menjadi salah satu alasan mengapa investigasi Strider terasa memiliki bobot.
Sementara Nicole Beharie memberikan sisi personal yang membantu memperlihatkan bahwa Strider bukan hanya seorang agen FBI. Ia juga seorang manusia yang memiliki kehidupan dan orang-orang yang harus dipertimbangkan ketika menjalankan tugas berbahaya.Interaksi personal tersebut membuat konflik Strider terasa lebih manusiawi.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan :
Yahya Abdul-Mateen II tampil kuat dan introspektif.
Mark Wahlberg memberikan karakter yang karismatik sekaligus berbahaya.
Chemistry dua karakter utama menjadi salah satu daya tarik terbesar.
Atmosfer Mississippi era 1960-an terasa kelam dan menekan.
Sinematografi mendukung tema moralitas abu-abu.
Musik dan desain suara efektif membangun suspense.
Isu rasisme dan ketidakadilan dikemas melalui konflik personal.
Humor gelap memberikan keseimbangan di tengah cerita serius.
Kekurangan :
Tempo awal cukup lambat.
Beberapa bagian terasa terlalu padat dengan konflik politik dan moral.
Sejumlah karakter pendukung sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.
Bagi penonton yang mengharapkan thriller penuh aksi, film ini mungkin terasa kurang eksplosif.
Konfliknya membutuhkan perhatian karena tidak semuanya disampaikan secara sederhana.
Kesimpulan: Thriller Sejarah yang Lebih Memilih Membuat Penonton Berpikir

By Any Means bukanlah film kriminal yang dibuat hanya untuk memberikan hiburan melalui aksi dan misteri. Film ini lebih tertarik membawa penonton masuk ke sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan dan kemudian mempertanyakan kembali arti keadilan. Yahya Abdul-Mateen II memberikan penampilan yang solid sebagai Wayne Strider, seorang agen FBI yang harus mempertahankan idealismenya ketika berhadapan dengan realitas yang jauh lebih kotor. Sementara Mark Wahlberg menjadi pasangan kontras yang menarik sebagai Greg Scarpa, seorang kriminal yang tidak mengenal batas ketika harus menyelesaikan sebuah masalah. Secara visual, film tampil gelap dan serius. Sinematografinya mampu menerjemahkan konflik moral ke dalam bahasa gambar, sementara desain suara dan musik memperkuat rasa terancam yang terus mengikuti karakter.
Kekurangannya terutama berada pada tempo yang terkadang terlalu lambat dan beberapa konflik yang terasa cukup berat. Tetapi justru kesabaran tersebut memungkinkan By Any Means membangun karakter dan dilema moral secara lebih mendalam. Pada akhirnya, film ini bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Film ini tentang apa yang terjadi ketika seseorang yang percaya pada keadilan dipaksa masuk ke dunia yang tidak lagi mengenal batas antara benar dan salah. By Any Means adalah thriller kriminal-historis yang gelap, intens, dan penuh pertanyaan moral—sebuah film yang mengingatkan bahwa dalam dunia yang korup, mendapatkan keadilan terkadang bisa sama sulitnya dengan mempertahankan prinsip.



