
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan darurat mengenai fenomena iklim El Nino yang kian menguat secara drastis. Diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam kurun waktu 1.000 tahun terakhir, fenomena ini berisiko mendorong suhu bumi ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Suhu permukaan samudra Pasifik di pusat wilayah El Nino saat ini tercatat 2,6°C di atas rata-rata, mendekati anomali tertinggi era satelit. Puncak suhu bahkan diproyeksikan menembus angka 4°C pada November mendatang.
Kombinasi antara krisis iklim akibat polusi bahan bakar fosil dan lonjakan energi El Niño diprediksi memicu serangkaian bencana global yang meluas:
Ancaman Kebakaran Hutan dan Kekeringan: Memicu peningkatan risiko kebakaran hutan di Indonesia dan Australia, serta melemahkan pasokan hujan monsun vital di India.
Krisis Pangan Global: World Food Programme (WFP) memperkirakan sekitar 50 juta jiwa berpotensi terdorong ke dalam kelaparan akut akibat melonjaknya harga pangan dan kegagalan panen masif.
Bencana Banjir dan Gelombang Panas: Wilayah Amerika Selatan terancam banjir bandang intens, sementara benua Eropa berisiko menghadapi gelombang panas ekstrem yang berulang.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Sekjen WMO Celeste Saulo menegaskan bahwa bumi kini berada di “wilayah tak terpetakan” (uncharted waters). WMO secara resmi telah meluncurkan mobilisasi darurat global terbesar dalam 50 tahun terakhir bersama lembaga meteorologi nasional di seluruh dunia guna memperkuat sistem peringatan dini.
Pihak berwenang mendesak negara-negara dunia untuk segera memangkas emisi karbon serta memperkuat skema ketahanan iklim, mengingat dampak pemanasan global ini diproyeksikan akan terus berlangsung hingga sepanjang tahun 2027.



