
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang masih berpotensi terjadi hingga awal Februari 2026. Perpanjangan OMC dilakukan berdasarkan hasil pemantauan cuaca serta data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menekan risiko banjir.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memastikan pelaksanaan OMC akan terus dievaluasi sesuai perkembangan cuaca harian, dengan fokus utama tetap pada perlindungan wilayah Jakarta dari ancaman banjir.
Pramono menjelaskan perpanjangan OMC dilakukan untuk mencegah dampak lanjutan dari curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir besar. Menurut dia, pengalaman banjir sebelumnya menjadi pelajaran penting agar langkah pencegahan dilakukan lebih awal.
Selain itu, tingginya potensi hujan di wilayah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Tangerang Selatan turut menjadi pertimbangan. Tanpa pengendalian di hulu dan sekitarnya, Jakarta berisiko menerima kiriman air dalam jumlah besar.
Oleh karena itu, OMC diposisikan sebagai upaya penanganan jangka pendek yang berjalan beriringan dengan solusi jangka menengah dan panjang, termasuk normalisasi sungai dan proyek pengendalian banjir lainnya.
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya telah mengaktifkan OMC sebagai langkah mitigasi cepat untuk mengendalikan curah hujan. Operasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan analisis cuaca dari BMKG.
OMC menjadi bagian dari strategi terpadu pengendalian banjir Jakarta, yang mencakup penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang. Pemprov DKI juga melanjutkan program normalisasi sungai, serta koordinasi lintas wilayah guna mengurangi risiko banjir di Ibu Kota.



