
Tragedi memilukan terjadi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga Senin, 6 Oktober 2025, tercatat sebanyak 50 orang meninggal dunia dan 13 lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan mushala yang ambruk.
Insiden ini menjadi salah satu bencana non-alam dengan jumlah korban jiwa terbanyak sepanjang tahun 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut bahwa total korban dalam tragedi ini mencapai 154 orang, dengan 104 di antaranya berhasil diselamatkan.
Proses evakuasi masih berlangsung intensif, melibatkan tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal. Peristiwa tragis ini terjadi pada Selasa, 30 September 2025, saat para santri sedang melaksanakan salat Asar di dalam mushala.
Rizki Ramadhan (19), salah satu santri yang selamat, mengungkapkan bahwa saat kejadian ia sedang berada di lantai atas bangunan, ikut melakukan pengecoran bersama beberapa pekerja. Ia mengaku tidak mengetahui siapa saja yang tertimpa bangunan karena posisinya berada di atas saat insiden terjadi.
Fakta bahwa beberapa santri ikut terlibat dalam proses pembangunan mushala memicu sorotan publik. Menurut informasi yang beredar, santri yang tidak mengikuti kegiatan pondok diduga diberi tugas pengecoran sebagai bentuk hukuman. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang aspek keselamatan dan perlindungan terhadap santri di lingkungan pesantren.
Pengasuh Ponpes Al Khoziny, Abdul Salam Mujib, menyebut bahwa mushala tersebut baru berdiri sekitar 9–10 bulan sejak awal pengerjaan. Bangunan empat lantai itu dibangun dengan dek langsung tanpa genteng, yang menurut para ahli konstruksi bisa menimbulkan risiko struktural jika tidak didukung oleh fondasi dan material yang memadai.
BNPB melalui Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, menyatakan bahwa penyebab utama robohnya bangunan adalah kegagalan teknologi konstruksi.
Sementara itu, Deputi III Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, menyampaikan bahwa proses pencarian dan evakuasi masih dilakukan secara intensif.
Tim SAR gabungan menggunakan alat berat seperti eskavator dan pemecah beton untuk mengangkat puing-puing bangunan. Jenazah yang ditemukan langsung dimasukkan ke dalam kantong khusus, disemprot disinfektan, dan dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi.
Penemuan jenazah terbanyak terjadi pada Minggu, 5 Oktober 2025, dengan 15 korban ditemukan dalam satu hari. Hal ini menunjukkan bahwa kerja keras tim SAR mulai membuahkan hasil seiring dengan berkurangnya material beton yang menumpuk.



