Follow Us

ENTERTAINMENT

Music, News, Traveling, Movie

ENTEX

Review Film Greenland 2 Migration, Mencari Tempat Setelah Bencana Besar Yang Menimpa Jutaan Manusia

Sinopsis & Alur Cerita
Film ini mengikuti keluarga Garrity lima tahun setelah kehancuran global akibat tabrakan komet Clarke. Setelah bertahan hidup di bunker di Greenland, mereka kini terpaksa keluar karena kondisi tempat perlindungan tak lagi aman. Mereka melakukan migrasi berbahaya melintasi dunia yang hancur, menghadapi ancaman alam dan manusia demi mencari tempat baru yang bisa dihuni sebagai permukiman baru.

Fokus Emosi & Manusiawi
Film tidak hanya sekadar efek visual bencana. Ia menonjolkan hubungan keluarga, harapan, solidaritas antar penyintas, dan perjuangan manusia bertahan hidup dalam situasi ekstrem — membuatnya terasa dekat secara emosional.

Dunia Pasca-Apokaliptik yang Luas
Seiring perjalanan keluarga Garrity, penonton disuguhkan dunia yang benar-benar hancur secara fisik dan sosial. Tokoh-tokoh pendukung mendapat ruang yang baik sehingga cerita terasa lebih beragam.

Bonding Keluarga
Gerard Butler kembali memerankan sosok kepala keluarga yang berusaha menjaga orang-orang yang dicintainya, dengan perkembangan karakter yang lebih “humanis” dibanding film pertama.

Ketegangan Kadang Tidak Maksimal
Beberapa kritikus menilai bahwa konflik konflik lanjutan terasa kurang tajam; kadang fokus pada dialog lebih dominan ketimbang aksi mendebarkan sehingga ritme bisa terasa agak datar.

Subplot yang Terasa Dipaksakan
Beberapa elemen seperti romansa atau subplot kecil dianggap kurang saling terintegrasi dan tidak sekuat tema utama bertahan hidup.

Greenland 2: Migration bukan sekadar film bencana biasa — ini membawa lapisan emosional dan pesan tentang ketahanan manusia di era ekstrem. Walaupun tidak selalu mencapai ketegangan puncak di tiap babak, sekuel ini tetap terasa layak dinikmati terutama bagi yang suka genre post-apokaliptik dengan drama keluarga yang kuat.

Allison Garrity (Morena Baccarin) yang merupakan seorang istri dan ibu yang cerdas, tenang, tegas, serta berperan sebagai sandaran untuk keluarganya. Sementara itu, Nathan Garrity yang kini tumbuh remaja diperankan oleh Roman Griffin Davis. Bukan lagi anak kecil yang selalu menangis, ia kini jauh lebih tangguh dan semakin pintar. 

Film dengan durasi 98 menit ini cukup improve dalam segi visual. Dari CGI hingga pengambilan gambar dibuat lebih dramatis dan menegangkan untuk mendapatkan vibe yang lebih realistis dengan survival mode. Suasana dan color grading-nya juga dibuat kelabu dan dingin, sehingga terasa hopeless dan bikin penonton ikut lelah. 

Overall, film ini sangat worth it untuk ditonton. Tidak selalu tegang, film ini juga menyajikan komedi tipis yang akan menghibur. Dibandingkan dengan disaster movie lainnya, pendekatan film ini cukup berbeda karena terasa lebih hangat, terutama menggambarkan perjalanan keluarga yang sama-sama bertahan hidup namun juga saling melindungi satu sama lain. 

Play Video

Get Motivated By Working On Your Passion

I Struggle With Confidently Pricing My Services

Related Post

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE
Scroll to Top