
Di era ketika banyak film aksi Hollywood semakin bergantung pada CGI, potongan gambar cepat, dan koreografi yang kehilangan bobot fisik, The Furious hadir sebagai pengingat bahwa aksi terbaik masih berasal dari kerja keras para seniman laga sejati. Film terbaru garapan Kenji Tanigaki ini bukan sekadar tontonan penuh pukulan dan ledakan, melainkan perayaan terhadap seni bela diri sinematik yang telah ia bangun selama lebih dari tiga dekade sebagai stuntman, koordinator aksi, dan kini sutradara. Nama Kenji Tanigaki mungkin tidak sepopuler para bintang yang tampil di depan layar, tetapi rekam jejaknya berbicara banyak. Ia pernah terlibat dalam berbagai proyek besar seperti Blade II, Snake Eyes, hingga Twilight of the Warriors: Walled In. Melalui The Furious, seluruh pengalaman panjang tersebut terasa menyatu menjadi sebuah film yang memahami betul bagaimana membuat aksi terasa nyata, menyakitkan, dan memacu adrenalin.

Kisah Sederhana yang Menjadi Fondasi Kekacauan Besar
Secara naratif, The Furious sebenarnya mengusung premis yang cukup sederhana. Cerita berpusat pada Wang (Miao Xie), seorang ayah bisu yang hidup terpisah dari putrinya, Rainy (Enyou Yang). Hubungan mereka memang tidak sempurna, tetapi cinta seorang ayah terhadap anaknya menjadi inti emosional film ini. Ketika Rainy diculik oleh sindikat kriminal berbahaya, Wang tidak memiliki pilihan selain terjun ke dunia kekerasan yang selama ini ia hindari. Dalam perjalanannya, ia bertemu Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang juga memiliki urusan pribadi dengan kelompok kriminal yang sama. Keduanya kemudian membentuk aliansi yang tidak terduga. Dari sinilah film berubah menjadi perjalanan berdarah yang dipenuhi perkelahian brutal, pengejaran menegangkan, dan pertarungan melawan gelombang musuh yang seolah tidak ada habisnya. Cerita ini memang tidak menawarkan kompleksitas ala thriller politik atau drama kriminal berlapis. Namun justru kesederhanaannya membuat film dapat fokus pada kekuatan utamanya: aksi.

Kenji Tanigaki dan Bahasa Universal Bernama Aksi
Hal pertama yang langsung terasa saat menonton The Furious adalah kepercayaan diri Kenji Tanigaki sebagai sutradara. Ia tidak membuang waktu dengan eksposisi panjang. Adegan pembuka langsung melempar penonton ke tengah operasi penyelamatan yang gagal. Dalam beberapa menit pertama saja, penonton sudah diperlihatkan bagaimana Tanigaki memandang aksi sebagai bentuk penceritaan. Setiap pukulan memiliki tujuan. Setiap gerakan memiliki konsekuensi. Tidak ada koreografi yang terasa sekadar hiasan. Berbeda dengan banyak film aksi modern yang mengandalkan puluhan potongan kamera dalam satu adegan pertarungan, Tanigaki memilih pendekatan yang lebih jujur. Kamera sering kali membiarkan para aktor menunjukkan kemampuan mereka secara utuh, sehingga penonton dapat benar-benar menikmati teknik, kecepatan, dan risiko fisik yang terjadi di layar.

Hasilnya adalah aksi yang terasa hidup dan autentik.
Joe Taslim Kembali Membuktikan Statusnya Sebagai Bintang Aksi Dunia Salah satu daya tarik terbesar film ini tentu saja kehadiran Joe Taslim. Sebagai Navin, Taslim menghadirkan kombinasi sempurna antara karisma, ketangguhan, dan intensitas emosional. Karakternya mungkin tidak memiliki latar belakang yang terlalu kompleks, tetapi setiap kali ia muncul di layar, energi film langsung meningkat. Yang membuat penampilannya begitu menarik adalah bagaimana ia mampu beradaptasi dengan gaya aksi Tanigaki. Tidak hanya cepat dan brutal, tetapi juga sangat presisi. Saat Navin akhirnya bertarung berdampingan dengan Wang, film mencapai salah satu titik tertingginya. Chemistry keduanya terasa alami. Mereka seperti dua mesin tempur yang bekerja dengan cara berbeda tetapi saling melengkapi. Bagi penggemar The Raid, melihat Joe Taslim kembali berada di tengah koreografi pertarungan kelas dunia tentu menjadi nostalgia yang menyenangkan.

Yayan Ruhian dan Parade Antagonis yang Menghibur
Tidak lengkap rasanya membicarakan film aksi tanpa membahas para penjahatnya. The Furious dipenuhi karakter antagonis yang mungkin tidak terlalu dalam secara psikologis, tetapi sangat efektif sebagai lawan yang mengancam. Yayan Ruhian menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Meski waktu tampilnya tidak mendominasi keseluruhan film, kehadirannya selalu membawa ancaman yang nyata. Seperti biasa, Yayan tampil dengan gaya bertarung yang khas: cepat, liar, dan sulit diprediksi. Ia membuktikan mengapa dirinya masih menjadi salah satu ikon laga Asia yang paling dihormati. Menariknya, film ini juga memberi identitas unik kepada banyak karakter pendukung. Meskipun sebagian besar hanya berfungsi sebagai lawan dalam perjalanan Wang dan Navin, mereka cukup berkesan untuk membuat penonton mengingat siapa yang sedang bertarung.

Rainy: Bukan Sekadar Korban yang Menunggu Diselamatkan
Salah satu keputusan terbaik dalam penulisan film ini adalah bagaimana karakter Rainy dibangun. Dalam banyak film aksi, karakter anak yang diculik sering kali hanya menjadi alat pendorong cerita. Mereka pasif dan menunggu diselamatkan.
The Furious mengambil jalan berbeda.
Rainy memang berada dalam bahaya, tetapi ia bukan sosok yang lemah. Sejak awal film sudah menunjukkan bahwa ayahnya mengajarkan keterampilan bertarung dan kemandirian. Ketika berada dalam situasi sulit, Rainy tidak hanya menangis atau menyerah. Ia berusaha melawan, berpikir, dan bertahan hidup dengan caranya sendiri. Hal ini membuat hubungan ayah-anak dalam film terasa lebih bermakna dan memberi dimensi tambahan pada cerita.
Aksi yang Terus Naik Level
Salah satu pencapaian terbesar The Furious adalah kemampuannya menjaga momentum. Biasanya film aksi memiliki satu atau dua adegan besar yang menjadi pusat perhatian. Namun di sini, hampir setiap babak menghadirkan pertarungan yang terasa seperti klimaks tersendiri. Mulai dari perkelahian jalanan, baku hantam di klub malam, pengejaran kendaraan, hingga aksi sepeda yang kreatif dan penuh risiko, semuanya dirancang untuk terus meningkatkan skala ketegangan. Yang mengagumkan, film ini hampir selalu berhasil melampaui ekspektasi. Ketika penonton merasa telah melihat adegan terbaiknya, Tanigaki kembali menghadirkan sesuatu yang lebih besar dan lebih gila.

Sedikit Kekurangan di Sisi Emosional
Meskipun luar biasa sebagai film aksi, The Furious tidak sepenuhnya sempurna. Hubungan emosional antara Wang dan Rainy sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak mendapatkan eksplorasi yang cukup mendalam. Beberapa momen dramatis terasa terlalu singkat karena film lebih memilih bergerak menuju adegan aksi berikutnya. Karakter-karakter pendukung juga sebagian besar berfungsi sebagai alat untuk menggerakkan cerita, bukan individu dengan perkembangan yang signifikan. Namun kekurangan tersebut tidak terlalu mengganggu karena film memang memahami identitasnya sejak awal. The Furious tidak berusaha menjadi drama keluarga atau thriller psikologis. Film ini hadir untuk memberikan aksi kelas dunia, dan dalam hal itu, ia berhasil dengan gemilang.
Kesimpulan
The Furious adalah surat cinta Kenji Tanigaki kepada dunia film laga. Sebuah tontonan yang memadukan pengalaman puluhan tahun dalam koreografi aksi dengan energi liar yang mengingatkan pada masa keemasan film bela diri Asia. Didukung penampilan solid Joe Taslim, Miao Xie, Yayan Ruhian, serta deretan adegan pertarungan yang nyaris tanpa cela, film ini berhasil menghadirkan pengalaman sinematik yang memacu adrenalin dari awal hingga akhir. Bagi penggemar The Raid, John Wick, The Night Comes for Us, atau film aksi Hong Kong klasik, The Furious adalah tontonan yang hampir wajib disaksikan.



