
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, akhirnya menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataannya yang mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian KRL. Pernyataan tersebut sebelumnya menuai berbagai reaksi dari masyarakat.
Arifah Fauzi mengakui bahwa usulan yang ia sampaikan kurang tepat, terutama di tengah situasi duka akibat kecelakaan yang menimbulkan banyak korban. Ia menegaskan bahwa keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas utama tanpa membedakan gender.
Lebih lanjut, Arifah menegaskan bahwa usulan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain. Ia memahami bahwa dalam kondisi berduka seperti saat ini, fokus utama seharusnya tertuju pada penanganan korban dan empati terhadap keluarga yang terdampak.
Pemerintah saat ini, lanjut Arifah, memprioritaskan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar seluruh proses penanganan dilakukan secara cepat, adil, dan menyeluruh.
Selain itu, Kementerian PPPA turut berkomitmen memberikan pendampingan kepada korban dan keluarga, khususnya anak-anak yang terdampak secara psikologis akibat peristiwa tersebut.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memfokuskan perhatian pada penanganan korban serta perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Sebelumnya, Arifah Fauzi sempat mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta. Usulan tersebut muncul setelah insiden kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, termasuk penumpang di gerbong perempuan yang biasanya berada di bagian depan dan belakang.
Menurutnya, posisi gerbong di bagian ujung rangkaian memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan. Namun, ia menegaskan bahwa gagasan tersebut masih bersifat awal dan belum melalui pembahasan lebih lanjut.



