
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi adanya insiden yang menimpa prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon. Insiden terjadi di tengah meningkatnya eskalasi situasi keamanan di wilayah tersebut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan, peristiwa itu mengakibatkan satu prajurit TNI meninggal dunia. Prajurit TNI yang gugur, Praka Farizal Rhomadhon, terkena serangan artileri saat bertugas di wilayah Adshit al-Qusyar.
Menurut Rico, insiden terjadi saat berlangsung saling serang artileri di area penugasan. Hingga kini, proses klarifikasi masih dilakukan oleh pihak UNIFIL untuk memastikan kronologi lengkap kejadian tersebut.
Rico mengatakan pihak Markas Besar TNI akan menyampaikan informasi lebih lengkap dan terbaru terkait insiden tersebut.
Insiden mematikan yang terjadi pada Minggu (29/3/2026) ini memicu reaksi diplomatik tingkat tinggi di Markas Besar PBB, New York.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres turut mengecam insiden tersebut. Melalui pernyataan di platform X pada hari yang sama, Guterres menyebut seorang penjaga perdamaian asal Indonesia tewas dalam peristiwa yang terjadi di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah.
Guterres juga menyampaikan bahwa satu personel Indonesia lainnya mengalami luka parah. Ia menyampaikan duka cita kepada bangsa Indonesia, khususnya keluarga korban, serta berharap personel yang terluka dapat segera pulih.
Menurut dia, insiden itu merupakan bagian dari rangkaian kejadian yang membahayakan keselamatan pasukan penjaga perdamaian.



