
Beberapa tahun terakhir, Hollywood tampaknya mulai terobsesi dengan konsep “The Death of…”. Bukan sekadar kematian secara harfiah, melainkan kematian sebuah mitos, kematian citra kepahlawanan, dan kematian kisah klasik yang selama ini kita kenal. Formula ini mengajak penonton melihat kembali tokoh-tokoh legendaris dari sudut pandang yang jauh lebih kelam dan realistis.
Setelah The Death of Snow White berhasil mengubah kisah Putri Salju menjadi dongeng horor yang brutal, kini giliran legenda Robin Hood yang mendapat perlakuan serupa. Bahkan film seperti The Carpenter’s Son, yang menawarkan interpretasi gelap terhadap kisah Yesus, terasa masih berada dalam semesta ide yang sama—membongkar mitos lama lalu menyusunnya kembali menjadi cerita yang lebih manusiawi, lebih tragis, dan jauh dari kesan heroik. Harus diakui, konsep ini semakin menarik. Selama dilakukan dengan visi yang jelas, hasilnya justru mampu memberikan perspektif baru terhadap cerita yang sudah terlalu sering diceritakan.

Michael Sarnoski Kembali Membuktikan Kelasnya
Di balik film ini berdiri Michael Sarnoski, sutradara yang sebelumnya mencuri perhatian lewat Pig (2021) dan A Quiet Place: Day One. Namanya memang belum sepopuler banyak sineas muda lainnya, tetapi konsistensinya dalam menghadirkan drama emosional dengan karakter yang kompleks membuatnya layak diperhitungkan sebagai salah satu sutradara paling menjanjikan saat ini. Lewat The Death of Robin Hood, Sarnoski kembali menunjukkan kekuatannya: membangun karakter yang rusak dari dalam, lalu mengajak penonton menyelami luka-luka batinnya.
Robin Hood yang Menghancurkan Mitosnya Sendiri
Film ini langsung menghancurkan semua ekspektasi sejak menit-menit awal. Robin Hood yang selama ini dikenal sebagai pahlawan rakyat justru mengakui bahwa seluruh legenda tentang dirinya hanyalah kebohongan.

“Aku bukan pahlawan. Aku seorang pembunuh dan pencuri. Aku membunuh karena menikmatinya, dan mencuri demi harta.”
Satu kalimat tersebut sudah cukup untuk membalikkan seluruh citra Robin Hood yang selama berabad-abad hidup dalam budaya populer. Alih-alih menjadi simbol keadilan, Robin di sini digambarkan sebagai manusia penuh dosa yang selama ini bersembunyi di balik cerita-cerita heroik. Seorang gadis muda yang awalnya mengidolakan Robin bahkan mencoba membunuhnya setelah mengetahui kenyataan tersebut. Momen ini menjadi simbol bagaimana mitos bisa runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan.

Kekerasan yang Tidak Lagi Heroik
Konflik semakin berkembang ketika Little John (Bill Skarsgård) datang meminta bantuan Robin untuk merebut kembali tanah miliknya. Yang terjadi bukanlah aksi heroik ala Robin Hood klasik. Serangan mereka justru berubah menjadi pembantaian brutal.Anak-anak, warga sipil, bahkan hewan ikut menjadi korban. Adegan ini terasa sangat penting karena film benar-benar menghapus romantisasi kekerasan yang selama ini melekat pada kisah Robin Hood. Tidak ada kemenangan. Tidak ada sorak-sorai. Yang tersisa hanyalah darah dan rasa bersalah.
Babak Kedua yang Sangat Personal
Setelah terluka parah, Robin ditinggalkan Little John dan akhirnya dirawat di Biara St. Clement oleh Suster Brigid (Jodie Comer). Di sinilah tempo film berubah drastis. Adegan-adegan aksi digantikan dengan keheningan. Robin mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis yatim piatu bernama Margaret. Ia mengajarinya memanah. Mereka berbicara. Mereka saling memahami. Perlahan-lahan Robin mulai merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya: belas kasih. Di saat yang sama, bayangan orang-orang yang pernah ia bunuh terus menghantuinya. Film kemudian berkembang menjadi kisah tentang penyesalan, pengampunan, dan pencarian makna hidup menjelang kematian.

Logan dalam Balutan Robin Hood
Sulit untuk tidak melihat kemiripan film ini dengan Logan. Seorang pria tua yang lelah. Dipenuhi rasa bersalah. Ingin mengakhiri hidupnya. Menemukan secercah harapan lewat hubungan dengan seorang gadis kecil. Berusaha menjadi manusia yang lebih baik sebelum semuanya terlambat.
Secara emosional, struktur narasinya terasa sangat dekat dengan Logan. Sementara secara visual, film ini memadukan atmosfer dingin dan brutal ala The Northman dengan lanskap alam liar yang mengingatkan pada The Revenant. Hasilnya adalah film yang sangat indah dipandang, tetapi juga suram dan penuh kesedihan.
Visual yang Kelam namun Memukau
Sinematografinya menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Hutan yang berkabut. Pantai berbatu. Biara tua yang sunyi. Setiap lokasi terasa seperti karakter tersendiri yang mencerminkan kondisi batin Robin. Palet warna yang kusam semakin memperkuat nuansa kematian yang menjadi tema utama film. Tidak banyak dialog berlebihan. Banyak adegan dibiarkan berbicara melalui ekspresi, lanskap, dan keheningan.

Sebuah Film Tentang Penebusan, Bukan Kepahlawanan
Jika Anda datang dengan harapan melihat Robin Hood mencuri dari orang kaya dan membagikan hasilnya kepada rakyat miskin, film ini mungkin akan mengecewakan. Namun bila Anda siap menyaksikan kisah tentang seorang pria tua yang menghadapi dosa-dosanya sendiri sebelum ajal menjemput, The Death of Robin Hood menawarkan pengalaman yang jauh lebih emosional. Film ini bukan tentang menjadi pahlawan. Film ini tentang menyadari bahwa selama ini kita mungkin bukan pahlawan sama sekali.

Kesimpulan
The Death of Robin Hood adalah dekonstruksi berani terhadap salah satu legenda terbesar dalam budaya populer Inggris. Michael Sarnoski berhasil mengubah kisah kepahlawanan menjadi tragedi eksistensial yang penuh penyesalan, kekerasan, dan pencarian makna hidup. Walaupun kemungkinan besar film ini tidak akan menjadi fenomena budaya seperti beberapa adaptasi Robin Hood sebelumnya, ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga: sebuah pengalaman sinematik yang dewasa, emosional, dan menghantui jauh setelah kredit penutup bergulir.
Bagi penonton yang menyukai film-film seperti Logan, The Northman, The Revenant, atau Pig, film ini merupakan tontonan yang sangat layak untuk dinikmati.



