
Kasus influenza tipe A semakin merebak di berbagai wilayah, khususnya Jakarta, dengan peningkatan signifikan sejak awal Oktober 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan hingga 38%, didominasi oleh subtipe H3N2 yang kini menjadi varian utama di kawasan Asia Tenggara.
Sejumlah rumah sakit di Jakarta mulai kewalahan menangani pasien dengan gejala serupa influenza. Banyak di antaranya harus menjalani perawatan inap akibat gejala yang cukup berat seperti demam tinggi, batuk, pilek, nyeri otot dan sendi, hingga muntah-muntah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga influenza di Ibu Kota bukan pandemi. Menurutnya, Covid-19 kini seperti flu biasa.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat total 1.966.308 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jakarta sejak Januari hingga Oktober 2025, dengan peningkatan jumlah kasus yang mulai teridentifikasi sejak Juli 2025.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Ani Ruspitawati menyebut penyakit ISPA akibat percikan droplet maupun partikel aerosol kualitas udara.
Ani menjelaskan bahwa gejala ISPA tersebut meliputi batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam. Menurutnya gejala tambahan dapat berupa hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, bersin, serta suara serak.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus mengimbau masyarakat untuk kembali memperketat protokol kesehatan, termasuk penggunaan masker, terutama di masa peralihan musim seperti September hingga Oktober.
Dia menekankan bahwa flu kerap menyerang individu dengan daya tahan tubuh rendah, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.
Ketua DPR Puan Maharani turut meminta pemerintah dan instansi terkait untuk menangani lonjakan kasus ini secara serius agar tidak membebani fasilitas kesehatan dan mengancam keselamatan masyarakat luas.



